Profesionilitas Guru dan Moralitas Siswa

Tugas mengajar merupakan profesi moralitas. Di samping harus memiliki ke dalam ilmu pengetahuan, guru mesti orang yang bertakwa dan berakhlak atau berkelakuan baik. Perilaku guru, langsung tidak langsung, berpengaruh terhadap motivasi  belajar siswa, baik yang positif maupun negative. Jika kepribadian yang ditampilkan guru  sesuai dengan segala tutur sapa, sikap, dan perilaku, siswa akan termotivasi untuk belajar dengan baik.

Guru sejatinya tidak hanya men-transfer ilmu, tetapi juga berbudi pekerti dan dapat menjadi contoh bagi siswa. Pengaruh seorang guru terhadap anak didik hamper  sebesar pengaruh orang tua terhadap anak. Bahkan, kita sering menemukan seorang anak tidak mau mengerjakan saat diperintah orang tua. Tetapi, ketika diperintah guru, dia mau mengerjakan. Meski kasuistik, hal tersebut mencerminkan bahwa pengaruh guru terhadap siswa sangat besar, termasuk dalam pembentukkan karakter.

Sebagai kurikulum berjalan, guru seharusnya setiap saat memperbarui dan meningkatkan kemampuan keguruannya. Teladan nyata yang ditujukan guru akan lebih mudah melekat dalam perilaku siswa daripada pembelajaran secara verbal.

Aneka cibiran dan komentar sinis masyarakat seakan mengubah citra profesi guru yang dikenal ‘sakral’ menjadi ‘marginal’. Publik selalu mengontrol guru sampai sedetail-detailnya. Rusak sedikit citra itu, bisa terjadi isu besar. Meski hanya oknum yang melakukan, semua kena getahnya.

Harapan yang membumbung membuat masyarakat tidak bisa menerima guru berbuat salah.

Empat Klasifikasi Guru

  1. Guru Dasar

Mereka yang termasuk kategori itu adalah yang dilahirkan untuk menjadi guru. Dia bersahaja dan santun dalam perbuatan.

  1. Guru Bayar

Ini adalah kelompok guru yang selalu perhitungan terhadap waktu dan tenaga yang dikeluarkan. Bagi dia, profesi adalah mesin pencetak uang. Ada kesan materialistis yang dominan.

  1. Guru Nyasar

Mereka menjadi guru sebagai pelarian, mungkin salah jurusan atau tidak mendapatkan pekerjaan di profesi lain. Kelompok tersebut masih bisa diluruskan bila kompetensi dan kemauan dirinya terus di-upgrade.

  1. Guru Benar

Ini merupakan guru yang niatnya benar dan tepat dalam empat hal, waktu, biaya, tenaga, dan kualitas. Mereka tulus mengabdi demi tugas mulia mencerdaskan bangsa. Spirit berkobar, tak peduli komentar.

 

Di masyarakat tertanam guru adalah sosok yang penuh pengabdian. Pengabdian terhadap murid, sekolah, masyarakat, dan bangsa. Tak aneh, guru hamper selalu dilibatkan dalam berbagai ajang sosial masyarakatan. Selalu menjadi panitia penyelenggara pemilu, pilkades, atau pengurus RT. Kadang, demi alas an jangka pendek, guru bertindak melenceng. Mereka menjadi hidden curriculum.

Untuk memaknai profesionalisme, guru perlu introspeksi tentang beberapa hal berikut ini:

  1. Pertama

Guru tidak boleh bosan meng-upgrade kemampuan dan keilmuan diri. Zaman terus berubah. Bagi guru, sekolah tidak boleh berhenti. Tapi, belajar harus tetap jalan. Kalau tidak, mungkin benar kritik Frans Magnis Suseno, guru-guru kita tidak terlatih diri sebagai pemegang otoritas, tetapi dengan kepercayaan diri lemah.

  1. Senantiasa meningkatkan profesionalisme. Tenaga professional mengandung arti bahwa pekerjaan guru hanya dapat dilaksanakan oleh seseorang yang memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik yang sesuai dengan persyaratan untuk setiap jenis dan jenjang. Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 disebutkan, seorang guru harus memiliki empat kompetensi utama, yaitu: kompetensi pedagogis, kepribadiaan, profesional, dan sosial.
  2. Menjaga keikhlasan dan tulus untuk mengabdikan diri demi berkembangnya tradisi pendidikan di masyarakat. Tanpa keikhlasan, ilmu yang diberika kepada siswa tidak akan terserap secara optimal. Ibaratnya, mata air yang keruh sulit mengalirkan air yang bening.

Tugas dan beban guru memang berat. Berbagai tudingan miring biasa terlontarkan. Semua akan terasa indah dan terjawab bila diimbangi dengan profesionalitas, bukan keteledoran. Bila tidak, silakan tutup telinga atas tuduhan bahwa guru hanya antusias saat mengurus kesejahteraan dan malas untuk perubahan yang lebih baik.

Senjata terhebat di dalam gedung senjata kita adalah pendidikan. Tidak ada yang lebih patriotis yang bisa dilakukan seseorang dalam karirnya selain menjadi guru.

Pendidikan adalah tentang membantu orang lain mengerti betapa berharganya dirinya bagi keseluruhan system. Saya mendekati setiap murid dengan pemikiran, “Apa kabar, pintar?” Daripada “Seberapa pintar kamu?”

Salah satu cara terbaik untuk mengajarkan karakter pada anak-anak adalah dengan menjadi teladan yang baik. Mereka mungkin tidak menyadari sekarang, tetapi menjadi contoh untuk mereka akan sangat berpengaruh.

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SMK Nurul Haromain